Kisah si Atun, Inem, dan Printer

on Sep 7, 2012

Di suatu malam, ada dua orang yang sedang ngos - ngosan naik ke lantai tiga untuk mengumpulkan berkas yang deadlinenya juga malam itu. Sebut saja si Atun sama si Inem. Tiba di tempat pengumpulan, eh ditolak itu berkas. You know why? Gara - gara formatnya gak bener. Terus dua cewek ini bingung, mau nge-print dimana malem - malem gini. Harus turun lagi, ntar naik lagi. Akhirnya selidik punya selidik, di lantai dua ada printer. Tanpa pikir panjang, langsung berangkat deh dua orang ini.

Si Atun nih nanya ke Inem, " apa bener ini ya ruangannya?". "Ah, coba saja masuk nanya", kata si Inem. Masuk deh dua orang itu. Setelah masuk, mereka berdua bersitatap. Sepi. Cuma ada sekitar 3 - 4 orang yang gak mereka kenal. "Permisi, Mas. Disini bisa ngeprint nggak?", tanya si Atun ke salah satu manusia yang ada disana. Entah mengapa dia lempar pertanyaan ke satu manusia yang lain. Terus coba tebak jawabannya apa? "Oh, mau ngeprint? Emang disini ada printer ya? -__________-", jawab manusia kedua penghuni ruangan ini. Oke, habis gitu dua orang ini langsung keluar.

"Helloo, loh tanya gue, terus gue harus tanya sama siapa??? Sama tembok. Ini ruangan yang huni siapa? malah nanya ada printer atau nggak? Emang loh pikir gue surveyor, atau tukang sensus gitu tau disini ada printer atau nggak? Atau perlu kita obrak - abrik tempat ini untuk nyari itu printer.", gerutu si Atun sama Inem. 

Mungkin di atas itu cerita geje, tapi ada satu hal yang harus kita inget. Hargailah orang lain, meskipun kamu tidak mengenalnya. Karena dengan menghargai orang lain setidaknya Anda menghargai diri Anda sendiri. Bayangkan perasaan si Atun sama Inem menghadapi respon dari orang yang menjaga ruangan tadi. Pasti sakit hati. Setidaknya jawablah dengan baik - baik agar tidak melukai hati orang yang bertanya. 

0 comments:

Post a Comment

Let's comment aboout this